Pages

Sabtu, 07 Mei 2011

Cerpen Teman Saya

Kemarin pas online aku di kirimi cerpen punyanya temenku. Setelah kubaca ternyata lumayan juga. Kalo ada yang pengen baca nie gw share ceritanya :

Untukmu

untukmu, jiwa jiwa yang menumpahkan kenangan hari kemarin : M.S.Z + Z.F


“ibuukk… aku berangkat…”
karo sopo riin??”
“biasa buk, kaleh kiki… asalamualaikumm…” sambil merapikan baju dan tali sepatu, aku mulai bergegas menemui kiki di depan pintu.
yowis, ati-ati, mantuk’e ojo sore-sore. Waalaikumsalam. Eh, rin… tumbas jenang telung kilo kanggo oleh-oleh mbah ya, biasane ning ngarep menara….” Ibu berjalan cepat menghampiriku dengan membawa uang dan mengulurkannya padaku.
nggih.., “ kutarik tangan ibu dan menciumnya sebelum berangkat.

Hari ini aku dan Kiki sengaja bangun pagi demi acara reuni kelas alumni Bahasa 2. Jam 7 tepat, dia sudah berada di depan pintu dan menjemputku dengan sepeda motor butut milik ayahnya. Dia masih seperti dulu. Kecil dan berantakan dalam usianya yang sudah berkepala dua. Kalau dilihat dari postur tubuhnya, boleh dibilang dia lebih mirip anak SMP kelas dua dibandingkan statusnya yang sekarang : Mahasiswa.

Teman sepermainan sejak SMPku ini memang agak bandel. Dari zaman SMP sampai sekarang jadi mahasiswa jenjang semester 2 pun, dia masih suka teledor dan bersikap seperti anak kecil. Kelakuannya yang seperti itu malah sering menjadikan bumerang bagi dirinya sendiri. Disepanjang perjalanan kami sejak dari Jepara sampai ke Kudus, kami banyak bercerita. Pengalaman-pengalaman menggelikan yang pernah kami alami bersama, suka duka berpisah dari sahabat semasa SMA, sampai kisah cinta yang berkelok-kelok bagaikan jalan menuju puncak gunung Muria. Ah.. itu kenangan masa lalu : pikirku.

   ***

Senja yang membaur di tetes keringat, mengisyaratkan kegalauanku yang tak kunjung melebur sedari tadi. Naungan adzan ashar membuatku teringat dengan pesan ibu : pulang. Belasan sms yang kukirim tak terbalas. Aku tau sejak dari awal acara reuni, Kiki terlihat bersama pacarnya yang juga sahabatku sejak SMA, Tina. Baru beberapa bulan ini mereka bersepakat untuk saling memadukan rasa, menjalin kasih. Ah, kisah yang sama-sama terjalin karena pihak ketiga. Aku sendiri tak pernah menyangka, kedua sahabatku itu ternyata saling cinta dan menghianati pasangan masing-masing hanya untuk bisa bersama. Rasa memang tak pernah bohong, tapi subjek yang merasakan adanya rasa itu yang tak tau hakikat dan bagaimana menghadapi rasa yang dialaminya. Manis yang dilematis.

Masih basah alis dan sebagian wajahku karena air wudhu, aku menghabiskan waktu menunggu Kiki yang belum juga datang.
“Zof, mereka kemana ya?” alisku mengerut, dan mataku menatap Zofi yang sedang merapikan kemejanya setelah sholat.
“gak tau rin.. tunggu aja sbentar lagi. Biar aku beri tahu mereka, kita menunggu disini.” Katanya sambil tersenyum dan menyusulku duduk di teras masjid.
“iya, tapi iki kan wis meh jam setengah lima sore. Aku ditunggu ibuk dirumah.” Kataku gusar sambil menengok jam tangan.
sabar to…”

Sambil duduk dan mengayun-ayunkan kakiku yang bergelantungan di teras masjid, aku masih berbincang dengan Zofi sembari menunggu Kiki dan Tina datang. Sudah hampir petang, putus asa hampir tak bisa lagi kubendung. Tiba-tiba Kiki datang dengan muka muram.

sui banget Ki... ayo cepet pulang... aku dah ditanyain ibu dari tadi ni lhoo...” kataku sambil manyun-manyun memonyongkan bibir.
“iyo iyo.. ayo balik. Zof, makasih yo dah jagain orin. Pulang sek ya mas bro..  Assalamualaikum.”

Sambil membonceng, sayup-sayup ku dengar Zofi menjawab salam dan tersenyum kepada kami. Aku dan kiki kembali  ke Jepara dan meninggalkan Zofi sendirian di sana.

   ***

Aku masih kesal dengan kelakuannya di acara reuni kemarin lusa. Meninggalkan tanggungjawabnya begitu saja saat sudah bertemu dengan Tina. Ya, apalagi ditambah kejadian saat perjalanan pulang. Hampir mati aku karenanya gara-gara ngebut di jalanan. Saat itu aku melihat raut mukanya yang sembab seperti usai menangis. Sempat aku bertanya padanya, kenapa mukanya seperti itu. Dia bergeming dan tak menjawab apapun. Ya sudah, aku melanjutkan saja bermain-main facebook sambil membonceng motornya. Aku masih ingat jelas saat itu, cekikak-cekikik tak karuan gara-gara teman-teman “gila” di dunia maya.

Gerimis pagi ini membuatku ingin bermalas-malasan dan meringkuk saja dibaik selimut tebal. Langit sepertinya tau bagaimana cara memanjakan orang-orang yang sedang malas beraktivitas. Tapi aku semakin heran saja dengan langit akhir-akhir ini. Dia sering sekali murung dan berdehem dengan gunturnya diatas sana. Meski aku memang sangat suka dengan gerimis, tapi aku tak bisa menerima kehadiarannya yang sering menyapa. Aku mulai merindukan matahari yang tersenyum lebar membakar semangat. Seperti aku yang selalu merindukan teman-teman dan sahabatku masa SMA.

Meski sekarang aku tak lagi mengenakan seragam kebesaran : putih abu-abu, tapi tetap saja ingatan-ingatan masa itu seperti menjadi landasan hadirnya seorang Orin yang sekarang. Mungkin benar kata pepatah, masa yang paling indah adalah masa-masa SMA. Apalagi saat haru ketika membuka amplop pengumuman kelulusan bersama-sama. Angin bertiup semilir seakan ikut senang ketika kami membaca kata keberhasilan menamatkan jenjang SMA. Ah, kenangan-kenangan itu membuatku takut. Takut tak bisa lagi mengingatnya kelak karena aku terlalu sering mengigatnya sekarang. Aku rindu mereka, dedemit XII Bahasa 2.

Ternyata aku tertidur dalam lamunan. Gelap membangunkanku dari mimpi dengan cicicuit bunyi handphoneku dibalik bantal. Rasanya malas sekali mengangkat handphone dan membuka mata.

“haloo... siapa ni..?” suaraku masih lirih dan ogah-ogahan berbicara dengan seseorang disebrang sana.
“rinn.... banguunn... balik semarang kapan ini? Jadi bareng gak besok?”
“iya, jadi.. gak usah teriak-teriak gitu lah.. panas ini kupingku. Ah, aku masih malas kuliah. Masih pengen dirumah ni Mon.”
“haiah... dasar pemalas. Ya sudah, besok aku tunggu di tempat biasa ya. Dadah babay....”

Tuuutttt tuuuuutt tuuutt....

Koneksi suara cempreng dari Momon itu selesai. Meningatkanku juga liburan akhir pekan ini akan segera usai dalam beberapa jam. Besok, aku bertemu kembali dengan dosen, dengan tugas, dan dengan teman-teman. Yang terburuk adalah dengan dunia asing yang masih belum bisa ku jamah. Aku belum bisa menjelma menjadi adonan yang akan segera dicetak dalam cetakan keguruan. Meski aku memang suka bahasa dan sastra Indonesia, tapi aku masih butuh bermetamorfsis sedikit demi sedikit untuk larut dalam adonan itu. Adonan yang sama sekali belum pernah aku cicipi.

   ***

Semester 3 ini adalah semester terindah selama aku menjalani kuliah sejauh ini. Sedikit demi sedikit, aku mulai merangkak, berjalan, dan bersiap untuk berlari. Aku sudah meneguk motivasi yang terserak diantara tumpahan kata-kata. Tapi motivasi saja tak akan pernah cukup untuk memupuk semangatku yang masih menguncup. Harus ada kerja keras dan keberanian untuk mewujudkannya. Seperti halnya jika ingin bermimpi, maka aku harus tidur agar bisa menemukan mimpi-mimpi itu.

De, aku sm Zofi minggu depan main ke kampusmu ya.
Sediakan sesajen dan kawan-kawannya. Hahaha
Nb : aku dan Zofi ingin membicarakan sesuatu.

Segera kubalas sms dari Adit itu.

Oke, gampang. Kemana saja kau? Tak pernah memberi kabar?  Bicara apa?

Dengan cepat adit membalas smsku

Tentang kalian (Kiki, Tina dan kamu). kita hrs bicara dn duduk bersama.

Sontak, aku kehilangan kata untuk membalas pesannya. Aku teringat dua sahabatku yang menghilang begitu saja. Tiada kabar, tiada pesan. Seperti menghindar. Semua kenangan seperti tumpah kemarin hari. Ada beberapa hal yang meresap datang dan melesap hilang. Seperti gelas yang didalamnya diisi minyak, kemudian diisi lagi dengan air sampai meluber. Dua hal yang sangat berbeda, meski hakikatnya sama : cair. Satu hal yang aku tau, minyak dan air itu tak sama. Dan segera aku menyekatnya, menguraikan air dan minyak dalam bejana yang berbeda. Aku kehilangan beberapa liter minyak diantara euforia gerimis dan air di duniaku yang baru ini. Aku kehilangan kenangan.

   ***

25 maret 2011. Aku meluangkan sedikit waktu untuk menemani ngopi dan sarapan bersama sahabat lamaku, Adit dan Zofi. Pagi ini terasa lebih sejuk dari kemarin. Mungkin karena langit menangis fajar tadi. Ditambah lokasi kampusku yang memang menjelma seperti hutan, segalanya tampak hijau dan segar.

“hari ini makanan aku yang bayar. sudah lama aku tak menyantuni anak terlantar.”  Kataku sambil senyum-senyum menggoda Adit dan Zofi.

Kalimatku itu tercetus sebagai pembuka obrolan. Sontak mereka berdua menimpaliku dengan kata-kata dan celetukan khasnya. Canda dan tawa terasa riuh di warung makan lesehan yang terletak tak jauh dari tempat kosku. Yang ditunggu sudah datang, makanan dan 2 sahabat lama. Zofi mengisyaratkan kepadaku dengan matanya yang berkedip, menunjuk di balik punggungku. Seolah dia berkata “mereka sudah datang.” Aku masih enggan berbalik karena terpikat oleh nugget dan kopi yang ada didepanku.

“ajak saja mereka duduk, makan bareng. Aku menunggu disini saja.” Kataku sambil mencocolkan sepotong nugget pada saus yang tersedia.

Bergegas Zofi berdiri, menghampiri Kiki dan Tina. Aku yang masih terus mengunyah makanan memandang Adit. Mencoba mecari tahu, apakah ada yang berubah diantara kami. Tapi Adit tak bergeming. Entah, mungkin dia sedang memperhatikan Zofi yang masih berdialog dengan Kiki dan Tina diluar sana. Tiba-tiba dia pamit meninggalkanku, menyusul Zofi.

Lebih dari 1801 detik sudah aku menunggu. Duduk sendiri dan berhadapan dengan berpiring-piring makanan yang sudah dipesan. Beberapa hidangan tampak berantakan karena asyik kumainkan. Kadang bernyani sendiri, melafalkan beberapa lagu kesukaan sambil membuka situs jejaring sosial. Ya, kegiatan utama membunuh kesepian.

“TINA…. !!!”

Suara yang memekik dan hampir memecahkan gendang telinga itu membuatku menoleh  dan berbalik. Aku melihatnya. Mereka yang dulu menjadi sahabatku. Dia yang selalu menyisakan tempat duduk di sepeda motornya untuk aku boncengi. Dan dia, gadis yang bersedia menampung rebahan badanku diatas kasur sempit kamarnya. Aku tak menegerti apa yang sebenarnya terjadi di sana. Tiba-tiba kulihat Tina pergi, berlari dan menjauh dari Zofi, Adit dan Kiki. Zofi mengejar Tina di sepanjang jalan sekitar warung. Sayang, telingaku tak cukup peka untuk mendengarkan kata yang diucapkan Zofi sambil berlari pada Tina dengan jarakku yang lebih dari 7 meter. Sontak, aku jadi teringat adegan kejar-kejaran di film-film bollywood. Untung saja cuacanya cerah. Mungkin kalau cuaca sedang gerimis, akan lebih tepat jika adegan itu di analogikan dengan film Kuch-Kuch Hota Haee.

Rasa penasaranku makin menjadi-jadi saat aku melihat Kiki datang menghampiriku. Aku ingin sekali menghujamkan banyak pertanyaan padanya. Menjejalinya dengan asumsi-asumsi menjamur yang terbentuk saat aku ditinggalkan sahabat. Tentang Aku, tentang dia, dan tentang Tina. Tentang semua yang telah berlalu. Tentang kenangan yang tumpah di kemarin hari.

   ***

Bulan maret yang berakhir melankolis. Gazebo Gedung B8 sudah menungguku menghabiskan waktu bermalam minggu. Laptop dan chargernya pun setia menemani menjelajah dunia maya.

“malam ini romantis ya.” Kata Momon yang menemaniku sambil memakan kedelai rebus yang sengaja dibawanya dari kos.
“hahaha… iya mon, malam minggu pula. Pas buat pacaran.” Aku menimpali kata-kata Momon sekenanya.
“Cocok!! Wah, coba deh lihat… kayak orang-orang di belakang kita itu rin. Mesra banget.”
“hah?? Mesra-mesraan di kampus?? Siaa…” aku membalikkan punggung dan melihat sekeliling. Belum selesai aku membubuhkan titik di kalimat terakhirku, tenggorokan ini rasanya tercekat. Tak bisa lagi meneruskan kata-kata yang harus aku katakan.
 “Kenapa rin?” tanya momon padaku.
“tak apa Mon.” jawabku sambil tersenyum, memalingkan wajah dan kembali menghadap laptop.
 “kau ingat kejadian kemarin yang aku ceritakan padamu?” kataku sambil membuka folder foto-foto kenangan.
“cerita tentang dua temenmu yang selingkuh, sahabat jadi cinta, terus tentang putus hubungan persahabatan gara-gara lebih milih pacar ketimbang kamu sebagai sahabatnya itu?” katanya nyerocos sambil mengupas kulit kedelai.
“iya.. yang itu.” Kataku menyahut Momon sambil memandang sebuah foto dari layar laptop.
“ingat lah. Dalem banget ceritanya. Masa si cewek cemburu  gak jelas sama kamu sebagai sahabatnya sendiri. Lantas maksa cowoknya buat memutuskan persahabatan sama kamu. Padahal kan kamu lebih lama kenalnya sama tuh cowok ketimbang cewek jahat dan super tega memutuskan hubungan persahabatan orang seenak jidatnya itu. Ah… dua-duanya gak pantes disebut sahabat tuh!! Buta karena nafsu dan cinta sampai rela mengorbankan persahabatan! Emang kenapa sih kok tanya-tanya gitu? Masih sebel ya?”
“iya Mon. aku juga tak pernah menyangka akan seperti itu jadinya. Aku kehilangan dua sahabat sekaligus. Aku percaya, kisah yang amazing gak harus berakhir happy ending.” Kataku sok bijak, membubuhkan kata-kata mutiara yang tak tau entah tercetus dari mana. Rasanya seperti tertimpa atap gazebo. Berat untuk berucap.
“You know what Mon… Mereka, dan kenangan yang ku ceritakan itu yang ada dibalik punggungku sekarang.”
kenangan yang tumpah kemarin


0 komentar:

Poskan Komentar